SAINS, DAN SPIRITUAL DALAM ISRA’ MI’RAJ
Oleh : Ariyadi*

Dalam beberapa hari menjelang umat Islam diseluruh dunia akan memperingati peristiwa besar penuh makna yang merupakan cikal bakal dimulainya perintah sholat lima waktu sekaligus menjadi salah satu mukjizat yang dimiliki oleh nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini lazim diperingati sebagai pembuktian kesalehan diri seorang muslim terhadap risalah agama. Terlebih saat ini PR besar dunia pendidikan kita adalah memberikan pemahaman pentingnya nilai-nilai spiritual sebagai bekal bagi perjalanan kehidupan. Bekal kehidupan berupa nilai-spiritual menjadi pondasi utama agar perilaku generasi saat ini bertumpu pada nilai-nilai agama yang berorientasi pada akhlak.

Rasionalitas Isra’ Mi’raj
Isra’ merupakan perjalanan spiritual dahsyat yang dialami oleh nabi Muhammad SAW dari masjidil haram Mekah sampai masjid al Aqso di Palestina. Perjalanan ini dalam kajian agama memberikan kesan bahwa pesan hablun minan nas (hubungan antar sesame manusia) harus tetap terjaga sebagai upaya taqarub diri seorang hamba kepada Rab-nya. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan spiritual yang dialami oleh nabi Muhammad SAW dari Masjid al Aqso Palestina sampai sidrah al muntaha dalam tempuh waktu satu malam (setalah waktu isya sampai menjelang waktu subuh). Perjalanan ini sekaligus menjadi simbil hablun minallah bagi setiap diri sebagai makhluk yang senantiasa menghambakan dirinya kepada Rabb-nya. Jumhur ulama’ sepakat bahwa sidrah al muntaha adalah tempat final peristiwa Isra’ Mi’raj .  
Kajian ilmiah mengenai peristiwa ini banyak dikaji dalam forum diskusi maupun seminar dalam sudut pandang sains ataupun spiritual. Keyakinan seorang muslim atas nilai spiritualitas peristiwa ini haruslah menjadi dasar bahwa peristiwa perjalanan itu adalah nyata dialami oleh nabi Muhammad SAW dengan cara memahami makna kalam suci yang tertuang dalam Al Qur’an. “ Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S. Al Isra: 1). Kutipan lafal Asro pada teks ayat tersebut memiliki terjemahan Allah SWT memperjalankan. Makna ini jika dikaji dari sudut pandang kebahasaan bahwa nabi Muhammad SAW adalah objek yang diperjalankan oleh subjek yakni Allah SWT. Bagi diri seorang muslim Allah SWT merupakan dzat yang memiliki segalanya dan kehendaknya adalah keniscayaan. Maka ketika Allah SWT menghendaki perjalanan jarak tempuh yang tidak rasional menurut sains, namun bagi Allah SWT adalah sesuatu yang sangat mungkin. Logikanya adalah jika seekor semut ketika melakukan perjalanan individu dari semarang ke Jakarta maka mustahil semut tersebut akan sampai di Jakarta, tapi bila semut berada di tas salah seorang penumpang bis boleh jadi semut tersebut akan sampai di Jakarta dalam waktu 6-8 jam, atau lebih cepat lagi bila semut berada dibagasi pesawat maka hanya butuh waktu 30-50 menit semut sudah ada di Jakarta. Maka, dasar utama keyakinan seorang muslim atas peristiwa Isra’ Mi’raj adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sebagai penguatan nilai spiritualitas. Beda argumentasi saat peristiwa Isra’ mi’raj dikaji dari sudut pandang sains maka tidak akan ada cabang ilmu exact (fisika, astronomi, dll) apapun yang dapat menghitung berapa kecepatan peristiwa tersebut terjadi.  Pesan lain dari peristiwa Isra’ Mi’raj bagi generasi muslim adalah hendaknya setiap diri kita menanamkan semangat untuk menjadi generasi muslim pembelajar yang terus berinovasi dalam mengembangkan khazanah keilmuan terutama bidang sains.
Bukan tidak mungkin saat sains dan konsep dasar agama jika dikolabirasikan dengan dasar keilmuan yang tepat maka akan melahirkan ide pemikiran yang positif yang bermanfaat bagi khalayak. Pesan ini adalah sebagai manaifestasi mukjizat nabi Muhammad SAW yang tidak selalu berwujud keajaiban. Dalam peristiwa ini perjalanan darat dan udara yang ditempuh nabi Muhammad SAW adalah perjalanan antara rasional dan irasional tetapi pesan mukjizat ini menyiratkan bahwa umat saat ini adalah generasi inovator atas ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan memperingati peristiwa dahsyat ini tentu harapan besar tertumpu pada generasi mileneal untuk tetap semangat mengembangkan potensi ilmu pengetahun dan teknologi sekaligus mengamalkan pesan utama yakni melaksanakan perintah sholat lima waktu. Dengan berorientasi pada kesalehan spiritual(sholat) serta kesalehan sosial(inovator teknologi), hikmah perjalanan dahsyat nan agung ini semoga menjadi cikal bakal muhasabah agar semakin tumbuh semangat menjadi generasi pengembang ilmu pengetahun dan teknologi tidak sekedar menjadi jargon semata, namun realitas dalam mewujudkannya menjadi tanggungjawab kolektif yakni murid, guru, orang tua, serta pihak terkait dalam mengembangkan kurikulum berbasis spiritual dan teknologi.
Semoga.


Penulis adalah
Guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
SMA Islam Al Azhar 15 Kalibanteng Semarang

















BIODATA PENULIS

NAMA LENGKAP      : ARIYADI, S.Pd.I
ALAMAT                     : MEDANI RT 005 RW 2 TEGOWANU GROBOGAN JAWA TENGAH
NO . WA                     : 0857 1216 1246
EMAIL                         : kangary1983@gmail.com
NO. REK                     : 3-150-00196-9
FB                               : ABINE AFKAR
INSTANSI                   : SMAI AL AZHAR 15 SEMARANG
ALAMAT INSTANSI   : JL. SRI KUNCORO III No. 5 SEMARANG 024 76433223, 024 7602167
MOTTO                      : KERJA DUNIA DENGAN CERDAS, KERJA AKHIRAT DENGAN
  IKHLAS





Komentar

Posting Komentar