Mendengar kata "Youtuber" yang terbesit dalam benak kita saat ini adalah konten, "ngemis" subscribe. Siapa yang tidak tergiur dengan pendapatan youtuber sekelas Atta Halilintar, Ria Ricis, bahkan banyak kalangan artis yang juga mencoba peruntungan menjadi youtuber, sebut saja Baim Wong, Rafi Ahmad, Andre Taulany, Anang Hermansyah, dan beberapa artis lain. Pendapatan youtuber yang mencapai angka sangat fantastis hanya sekedar berbagi informasi via media youtube. Maka tak heran fenomena ini juga diikuti oleh berbagai profesi termasuk guru. Kondisi ini menjadi gejala rendahnya masyarakat kita tentang hidup dengan prinsip menebar inspirasi. Ketika ada segerombolan orang bersepeda, maka sepeda influence melanda dimana-mana, ketika ada yang tenar menikmati buah karya melalui akun youtube, maka beramai-ramai mencoba peruntungan menjadi youtuber dengan jalur "memelas" subscribe. Ya, inilah gambaran kita yang selalu mengikuti dan minum untuk berinovasi.
Guru Youtuber, Perlukah?
Dunia pendidikan memang harus terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. Kebutuhan teknologi sampai saat ini masih menjadi kebutuhan primer setelah pangan (pakaian). Apalagi semenjak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan regulasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) maka guru harus berlomba memberikan ruang dan pelayanan pendidikan secara maksimal dengan menyajikan konten pembelajaran berbasis teknologi. Ada yang menggunakan konsep youtuber sebagai media pembelajaran, ada yang memadukan perangkat media daring untuk mengajar secara apik, dan lain sebagainya.
Merebaknya youtube influence menjadi penanda bahwa setidaknya guru sudah bersahabat dengan teknologi. Lalu, apakah kondisi ini akan terus berlanjut ketika pandemi berakhir?. Harapan mengistiqomah hal-hal yang sudah baik hendaknya menjadi prioritas agar apa yang sudah menjadi rutinitas menjadi identitas penting bagi seorang guru. Sejatinya, menjadi youtuber atau berperan youtuber saat mengajar adalah langkah inovatif. Namun hindari "ngemis" subscribe agar marwah guru tetap terjaga. Yakin saja bahwa ketika konten kita menarik, mengandung nilai manfaat, tanpa kita bilang subscribe dan lain sebagainya orang akan melakukan subscribe dengan sendirinya.
Untuk menjadi inovator bukanlah sesuatu yang mudah. Kalimat ini lazim, misalnya ketika pemerintah mengeluarkan program gerakan literasi nasional yang disusul dengan gerakan satu guru satu buku. Namun kondisi yang ada saat ini tidak banyak guru yang berbondong-bondong menjadi "writer". Namun menjadi guru dengan mempredikatkan diri sebagai youtuber bukanlah sesuatu yang salah. Yang perlu diperhatikan agar konten menarik, pastikan menyiapkan segala sesuatunya sesuai dengan segmen pasar yang kekinian.
Pertama, guru dengan predikat youtuber harus berani bereksplorasi kemampuan diatas rata-rata, dengan cara terus tingkatkan kemampuan berkomunikasi yang baik. Ketika guru sudah berani memasang platform youtuber, maka siap-siap konten yang ada harus mengandung makna edukasi. Selain itu, memperkaya diri dengan menyimak pola youtuber kelas kakap juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dengan tidak menjadi duplikasi gaya youtuber tersebut. Dengan langkah ini guru akan memiliki karakter yang khas.
Kedua, tampilkan konten se-update mungkin. Konsumen utama dari produksi kita adalah peserta didik milenial yang sudah pasti sangat dekat dengan teknologi termasuk dunia youtube. Jangan sampai video yang kita share malah menjadi boomerang bagi kita sendiri. Ini dapat disikapi dengan terus menggali kemampuan diri agar apa saja yang menjadi konten sesuai dengan materi pembelajaran namun tetap pada konteks sajian youtuber pada umumnya. Ketiga, tempatkan posisi kita sebagai guru yang merupakan fasilitator dalam pembelajaran. Jangan jadikan peserta didik hanya sebagai objek pembelajaran saja, berikan juga ruang komunikasi atau feedback sehingga ketika ada hal-hal yang membuat peserta didik belum faham dapat menyanyakan baik melalui chat youtube atau layanan komunikasi lainnya.
Dan yang keempat adalah jaga konsistensi konten yang disajikan. Hal ini penting karena biasanya hal yang baru jika tidak dilakukan dengan baik maka akan terjadi kekeringan ide. Namun, menjadi guru "youtuber" sudah pasti menjadikan materi pembelajaran sebagai konten utama di samping menyajikan konten ala youtuber adalah sesuatu yang inovatif.
Selamat berkreativitas, selamat berinovasi tanpa batas, selamat menjadi guru "youtuber" yang berkualitas.
Penulis adalah
Guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
SMA Islam Al Azhar 15 Kalibanteng Semarang
Hukum berinovasi bagi guru adalah wajib
BalasHapus